Detail Berita

Abah Udju, 28 Tahun Bersepeda Pinjamkan Buku Gratis Tanpa Dibayar!

Selasa, 31 Januari 2017

Dunia Perpustakaan | Sudah lama tidak update memunculkan sosok inspirasi untuk para pustakawan dan pejuang literasi di Indonesia. Walaupun agak terlambat, setidaknya membaca kisah ini tetap tidak akan ada kata terlambat, untuk mengambil inspirasi dari perjuangan Djudju Djunaedi atau Abah Udju (68).

Usianya boleh lanjut. Namun, Abah Udju selalu bersemangat mengayuh sepeda berkeliling desa di Purwakarta.

Dalam sehari, dia bisa mengayuh sepeda sejauh 15 km untuk meminjamkan bukunya ke masyarakat di perkampungan Purwakarta. Sejak tahun 1988, dia menjalankan perpustakaan keliling Saba Desa.

“Abah mulai tahun 1988, saat itu masih kerja di PTPN VIII. Sepulang kerja, jam 14.00 sampai sore saya mulai keliling meminjamkan buku,” ujar Udju dikutip dari Kompas.com, Jumat (5/8/2016).

Dari perjuangannya, dia mengantongi beberapa penghargaan, di antaranya Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional. Dia pun mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Pemkab Purwakarta.

 

“Dari Pemkab Purwakarta dapat buku, uang, dan umrah,” tutupnya.

Awal mulanya, pada 1988-2002, dia menjalankan perpustakaan kelilingnya dengan berjalan kaki. Dia datang ke rumah-rumah di desanya, Gunung Hejo.

Pada tahun 2002, dia gabung Paguyuban Pasundan dan mendapatkan bantuan sepeda untuk perpustakaan kelilingnya. Namun di 2006, dia jatuh dari sepeda.

Sepedanya rusak parah dan giginya ompong. Saat itu, dia kembali berjalan kaki. Hingga 2009 ia mendapatkan sepeda kembali dari salah satu stasiun televisi swasta.

Karena usianya tak lagi muda, dia mendirikan ketua kelompok membaca di setiap desa. Jadi ia mendrop buku di ketuanya untuk disebarkan kepada pembaca. Buku tersebut baru akan diambilnya sepekan kemudian.

“Sekali pergi paling banyak bawa 50 buku dan majalah. Sebagian di tas, sebagian di sepedanya,” tuturnya.

Buku tersebut tidak disewakan. Jika ada orang yang memberikan sejumlah uang, ia bersyukur. Namun tidak pun, tidak apa-apa. Karena baginya ini adalah pengabdian.

“Saya pinjamkan buku ke kampung-kampung tanpa dapat bayaran, tanpa ditulis, karena nilainya ibadah. Kalau ditulis, enggak jadi ibadahnya,” ucapnya.

Buku yang dia pinjamkan juga banyak yang tidak kembali. Namun dia tidak pernah khawatir akan kehabisan buku. Yang ada, bukunya terus bertambah.

Buku-buku tersebut datang dari sumbangan. Awalnya ada yang memberikan ratusan majalah Tempo ke dirinya.

Lalu dia membuat surat pembaca di berbagai media hingga dia pun tiap pekan datang ke kantor pos untuk mengambil buku dan majalah dari masyarakat.